sulutmedia.com, MANADO – Ketokohan Christiany Eugenia Paruntu (CEP) kembali menjadi sorotan publik di tengah memanasnya situasi politik nasional dan daerah. Anggota DPR-RI dari Fraksi Golkar ini dinilai sukses memainkan peran strategis dengan mendatangkan Ketua Umum DPP Partai Golkar yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, ke Bumi Nyiur Melambai.
Kehadiran Bahlil di Sulawesi Utara dalam rangka Musyawarah Daerah (Musda) Golkar ke-II sekaligus agenda kerja kementerian, dipandang sebagai simbol kekuatan “bergaining” CEP di tingkat pusat. Langkah ini memicu apresiasi luas, baik dari masyarakat maupun kader internal partai pohon beringin tersebut.
Figur Visioner dan Penggerak Mesin Partai
Meski berada di penghujung masa jabatannya sebagai Ketua DPD I Golkar Sulawesi Utara, publik tetap menjuluki CEP sebagai “orang baik” yang memiliki visi jauh ke depan. Sejumlah pengamat politik meyakini bahwa Tetty Paruntu adalah figur visioner yang mampu menjaga ritme dan menggerakkan mesin partai secara efektif di tengah dinamika yang kompleks.
Menurut para pengamat, ada empat variabel utama yang membuat kapasitas kepemimpinan CEP tetap relevan dan kuat dalam kancah politik modern:
Kekuatan Jejaring Nasional: Mampu menyinergikan kepentingan daerah dengan kebijakan pusat secara taktis.
Rekam Kinerja Teruji: Terbukti melalui kepemimpinan transformatif saat menjabat sebagai kepala daerah.
Komunikasi Politik Efektif: Memiliki kemampuan lobi dan diplomasi yang cair namun tetap berwibawa.
Inovasi Kebijakan: Konsistensi dalam melahirkan ide-ide segar dan solusi bagi masyarakat.
Menggerakkan Tensi Politik
“Christiany Eugenia Paruntu memiliki kapasitas ide dan inovasi yang konsisten dalam merumuskan kebijakan. Kehadiran Ketum Bahlil di Sulut adalah bukti nyata bahwa CEP memiliki jalur komunikasi yang sangat efektif di ring utama kekuasaan,” ujar salah satu pengamat politik lokal.
Momentum kehadiran Bahlil Lahadalia ini tidak hanya dianggap sebagai agenda seremonial partai, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa pengaruh politik CEP tetap menjadi faktor penentu dalam konstelasi politik di Sulawesi Utara ke depan.
Donald Audy //Redaksi







Komentar