sulutmedia.com, MINAHASA – Di bawah komando Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, wajah pariwisata Bumi Nyiur Melambai kini memasuki babak baru. Pariwisata tidak lagi dipandang sebagai pajangan simbolis atau angka kunjungan semata, melainkan instrumen strategis yang berdampak langsung pada dompet masyarakat kecil.
Gubernur Yulius menegaskan bahwa pembangunan sektor ini harus bersifat inklusif. Artinya, setiap infrastruktur yang dibangun, setiap izin yang dipermudah, dan setiap promosi yang dilakukan harus bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan lokal.
Sumaru Endo: Simbol Kebangkitan Ekonomi Lokal
Bukti nyata dari arah kebijakan ini adalah dibukanya kembali objek wisata Sumaru Endo di Desa Leleko, Kabupaten Minahasa, pada Sabtu (23/01/2026). Langkah ini bukan sekadar seremoni pembukaan pita, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah hadir menghidupkan kembali aset-aset potensial yang sempat tertidur.
”Pariwisata Sulawesi Utara harus melampaui retorika. Kita membangun ekosistem, bukan hanya destinasi. Fokus kita adalah keselamatan, kenyamanan, dan yang terpenting, bagaimana rakyat terlibat di dalamnya,” ujar Yulius dalam sebuah kesempatan strategis.
Tiga Pilar Pariwisata Era Yulius Selvanus
Dalam kepemimpinannya, Gubernur Yulius menetapkan tiga fokus utama untuk memperkuat fondasi pariwisata Sulut:
- Penguatan Infrastruktur: Aksesibilitas menuju objek wisata diperbaiki untuk menjamin kelancaran arus wisatawan.
- Keamanan & Keselamatan: Menjamin standar keamanan tinggi bagi pengunjung guna membangun citra Sulut sebagai destinasi kelas dunia.
- Keberlanjutan (Sustainability): Memastikan pembangunan tidak merusak alam dan memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.
Dengan diaktifkannya kembali Sumaru Endo, masyarakat Desa Leleko dan sekitarnya kini memiliki peluang baru untuk menggerakkan roda ekonomi melalui UMKM, jasa pemanduan, dan pengelolaan lokal. Ini adalah representasi konkret bahwa di tangan Yulius Selvanus, pariwisata adalah fondasi pertumbuhan ekonomi dan harga diri daerah.
Donald Audy //







Komentar