oleh

Gubernur Yulius Selvanus ‘Pulang Kampung’ ke Sekolah Minggu: Menanggalkan Atribut Pejabat demi Melayani Jiwa Kecil

SULUTMEDIA.COM, MANADO – Suasana di gedung gereja GMIM Eben Heazer Bumi Beringin, Minggu (8/2/2026) pagi, terasa berbeda dari biasanya. Di antara keriuhan suara anak-anak, terselip sosok yang sangat familiar bagi warga Sulawesi Utara. Namun, pagi itu ia hadir bukan dengan pengawalan ketat atau protokol kenegaraan.

​Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling (YSK), memilih kembali ke “pos pelayanan” lamanya: menjadi seorang Engku (guru Sekolah Minggu).

​Bukan Pejabat, Tapi Pelayan

​Momen langka ini menjadi bukti bahwa kesibukan birokrasi sebagai orang nomor satu di Bumi Nyiur Melambai tidak mampu memadamkan kerinduan hatinya untuk melayani. Dengan Alkitab di tangan, YSK duduk sejajar dengan anak-anak, menanggalkan sejenak atribut mentereng jabatannya.

​Tak ada sekat, tak ada jarak. Ia tertawa lepas, bernyanyi bersama, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan lugu anak-anak dengan penuh kesabaran. Baginya, momen ini adalah sebuah “pulang kampung” spiritual. Diketahui, jauh sebelum menapaki karier militer dan politik, YSK memang memiliki sejarah panjang sebagai pengajar Sekolah Minggu.

​“Pelayanan kepada anak-anak adalah panggilan hati. Di sinilah iman ditanam sejak kecil,” ungkap YSK dengan senyum tulus.

​Ketulusan yang Menyentuh Hati Jemaat

​Aksi rendah hati sang Gubernur ini tak pelak membuat banyak orang tua dan jemaat yang hadir merasa haru. Melihat seorang pemimpin daerah mau bersusah payah membawakan cerita bergambar dan berbaur secara alami dengan anak-anak kecil adalah pemandangan yang menyejukkan di tengah hiruk-pikuk dunia politik.

​Beberapa poin menarik dari kehadiran YSK pagi itu:

​Bahasa Sederhana: Menyampaikan nilai-nilai kasih Tuhan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.

​Interaksi Tanpa Protokol: Duduk di lantai dan berbaur tanpa batasan birokrasi.

​Pesan Kepemimpinan: Menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang kerelaan untuk melayani mereka yang paling kecil.

​Refleksi Seorang Pemimpin

​Minggu pagi itu menjadi pengingat bagi warga Sulawesi Utara bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal mengambil keputusan besar di meja kantor. YSK membuktikan bahwa integritas seorang tokoh justru diuji saat ia bersedia kembali ke tempat paling sederhana dengan hati yang murni.

​Hari itu, ia tidak hanya hadir sebagai Gubernur; ia hadir sebagai dirinya yang asli seorang pelayan, seorang guru, dan seorang Engku yang mencintai anak-anaknya.

Donald Audy

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *