oleh

Siaran Pers Penasihat Hukum Imanuel A.  Dariwu,SH Terkait Undangan Klarifikasi kepada Sekretaris KSPSI-AGN Aswin.L

Siaran Pers: KSPSI- AGN SULUT KECAM PROSES YANG DINILAI MENGANCAM KEBEBASAN PERS, DESAK PENANGANAN TRANSPARAN DUGAAN PERGESERAN APBD TALAUD
MANADO — Konfederasi Serikat Pekerja  Seluruh Indonesia.  (KSPSI-AGN) Provinsi Sulawesi Utara menyatakan  keprihatinan dan keberatan atas  pemeriksaan klarifikasi terhadap seorang  jurnalis yang juga menjabat sebagai  Sekretaris KSPSI-AGN Sulawesi Utara dan Ketua Federasi Serikat Pekerja Percetakan, Penerbitan dan Media Informasi (FSP PPMI) Provinsi Sulawesi Utara

Jurnalis tersebut dimintai klarifikasi oleh  Polda Sulawesi Utara terkait pemberitaan  mengenai dugaan pergeseran anggaran  APBD Kabupaten Kepulauan Talaud  Tahun Anggaran 2025, pada masa ketika pihak pelapor menjabat sebagai Pejabat Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud.

Dalam surat undangan klarifikasi, tercantum Pasal 433 jo. Pasal 441 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan/atau Pasal 27A jo. Pasal 45 ayat (4) Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Pemeriksaan tersebut didampingi Penasihat Hukum Imanuel A. Dariwu, S.H. yang diutus KSPSI-AGN Provinsi Sulawesi Utara. Pendampingan ini merupakan bentuk perhatian organisasi terhadap perlindungan hak hukum anggotanya sekaligus komitmen untuk menjaga  kebebasan pers dan hak pekerja dalam menjalankan profesinya.

Penasihat hukum minta pemeriksaan  objektif dan proporsional
Penasihat hukum yang mendampingi  jurnalis menyatakan bahwa pihaknya  menghormati proses hukum dan  mendukung penegakan hukum yang  berjalan sesuai ketentuan perundang-undangan. Namun, ia menegaskan bahwa setiap dugaan tindak pidana harus diuji berdasarkan fakta, alat bukti, dan unsur hukum yang relevan, bukan hanya berdasarkan  keberatan seseorang terhadap suatu  pemberitaan.

“Klien kami kooperatif dalam memberikan  keterangan. Akan tetapi, kami meminta agar pemeriksaan dilakukan secara objektif,  cermat, dan proporsional. Pencantuman  pasal pidana dalam undangan klarifikasi  tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tindak pidana telah terjadi. Semua  unsur harus diuji berdasarkan fakta yang  sebenarnya,” tegas Imanuel A. Dariwu, S.H.

Menurutnya, pemberitaan yang menjadi  pokok persoalan berkaitan dengan dugaan pergeseran anggaran APBD Kabupaten  Kepulauan Talaud Tahun 2025. Pengelolaan anggaran daerah merupakan persoalan  yang memiliki relevansi dengan  kepentingan publik sehingga  pemberitaannya perlu dinilai dalam konteksfungsi pers sebagai penyampai informasi dan pelaksana kontrol sosial.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa  fungsi kontrol sosial tetap harus dijalankan dengan memperhatikan akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan Kode Etik Jurnalistik.

Penasehat Hukum juga menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan kliennya, gambar karikatur yang digunakan dalam artikel  tersebut berasal dari unggahan pihak lain.  Jurnalis yang diperiksa bukan pembuat  awal gambar itu dan menerangkan bahwa  ia tidak mengetahui konteks awal unggahan ketika menggunakan gambar tersebut  sebagai ilustrasi.

Selain itu, berdasarkan informasi yang disampaikan kepada penasihat hukum, artikel  tersebut tidak memuat nama ataupun tuduhan mengenai perbuatan tertentu yang  dilakukan oleh istri pelapor. Gambar  karikatur juga tidak disertai keterangan tambahan yang secara khusus mengarahkanmaknanya kepada orang tertentu.

“Kami meminta penyidik memeriksa keseluruhan konteks publikasi. Harus dibedakan antara siapa yang membuat karikatur,  siapa yang pertama kali mengunggahnya, bagaimana jurnalis memperoleh gambar tersebut, serta bagaimana hubungan gambar itu dengan substansi berita.  Penilaian hukum tidak boleh hanya  bertumpu pada keberadaan gambar tanpa menguji fakta dan konteksnya,” ujar Antho  sapaan akrab Penasehat Hukum.

Ia menambahkan bahwa penggunaan  gambar dari pihak lain tidak otomatis  menghapus seluruh tanggung jawab hukum.Namun, pengetahuan, maksud, peran, dan konteks tindakan jurnalis tetap harus  diperiksa sebelum menarik kesimpulan  mengenai pertanggungjawaban pidana.

Penasehat hukum juga meminta agar  penerapan Pasal 433 juncto Pasal 441 KUHP dijelaskan berdasarkan unsur delik yang konkret, termasuk siapa yang dianggap  menjadi sasaran tuduhan dan keadaan apa  yang dijadikan dasar pemberatan.  Adapun pencantuman Pasal 27A juncto Pasal 45 ayat (4) UU ITE perlu ditelaah dengan  memperhatikan tanggal publikasi serta ketentuan hukum antarwaktu. Hal ini  penting mengingat ketentuan peralihan UU Nomor 1 Tahun 2024 mengatur keberlakuan  pasal pasal  tersebut sampai diberlakukannya KUHP Nasional pada 2 Januari 2026.

Penasihat hukum turut meminta agar  penyidik memperhatikan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 145/PUU-XXIII/2025, sepanjang perkara yang  diperiksa berkaitan dengan produk jurnalistik yang dibuat dalam pelaksanaan  profesi secara sah.

“Kami tidak menyatakan bahwa wartawan kebal hukum. Namun, apabila persoalan yang diperiksa merupakan sengketa atas karya jurnalistik, mekanisme penyelesaian sengketa pers dan perlindungan hukum  terhadap wartawan harus diperhatikan.  Penegakan hukum harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap kebebasan pers,” tegasnya.

KSPSIAGN Sulut  desak penanganan laporan secara cepat dan transparan
Dalam kapasitasnya sebagai  Wakil Ketua KSPSI-AGN Provinsi Sulawesi Utara, Imanuel A.  Dariwu, S.H. menegaskan bahwa organisasi pekerja/buruh mendukung aparat penegak  hukum untuk menindaklanjuti setiap  laporan masyarakat secara profesional,  tanpa diskriminasi dan tanpa tebang pilih.
KSPSI-AGN Sulawesi Utara, katanya, mendorong aparat penegak hukum bergerak cepat dalam menyelesaikan setiap laporan masyarakat, terutama laporan mengenai dugaan  pergeseran anggaran APBD Kabupaten Kepulauan Talaud Tahun 2025.

“Jika terdapat laporan mengenai dugaan persoalan pengelolaan anggaran daerah, kami meminta agar laporan itu ditangani secara serius, profesional, dan transparan. Masyarakat berhak memperoleh informasi mengenaiperkembangan penanganannya sesuai ketentuan hukum. Jangan sampai satu  persoalan diperiksa dengan cepat,  sementara laporan lain yang menyangkut  kepentingan publik tidak memperoleh  kejelasan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dorongan tersebut bukanlah upaya mencampuri independensi penyidik, melainkan tuntutan agar penegakan hukum dilaksanakan secara akuntabel dan memberikan kepastian kepada masyarakat.


KSPSIAGN Sulawesi Utara juga  meminta agar penanganan perkara tidak berhenti pada pemeriksaan terhadap  jurnalis, tetapi seluruh laporan yang  berkaitan dengan dugaan pergeseran  anggaran turut ditindaklanjuti berdasarkan bukti dan prosedur hukum yang berlaku.

KSPSI- AGN akan menyurati Gubernur Sulawesi  Utara.
Sebagai langkah organisasi, KSPSI-AGN Provinsi Sulawesi Utara menyatakan akan menyampaikan surat resmi kepada Gubernur Sulawesi Utara untuk meminta  perhatian terhadap perlindungan kebebasanpers, kebebasan menyampaikan kritik, dan penghormatan terhadap hak masyarakat dalam mengawasi penyelenggaraan  pemerintahan.

KSPSI-AGN juga akan meminta Gubernur mengambil langkah sesuai kewenangan dan peraturan perundang-undangan terhadap pejabat publik yang tidak menjalankan tugas secara profesional atau menyalahgunakan kewenangan dalam merespons kritik dan menonaktifkan pejabat yang sedang berproses hukum sesuai  kewenangan, ketentuan perundang-undangan, serta status dan fakta hukum  masing-masing perkara.

“Pejabat publik harus memahami bahwa kritik dan pemberitaan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Kritik yang disampaikan melalui mekanisme yang sah tidak  boleh serta merta diperlakukan sebagai permusuhan pribadi.  Jika ada keberatan terhadap pemberitaan, tersedia mekanisme hak jawab, hak koreksi, dan penyelesaian melalui Dewan Pers sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

KSPSI-AGN mengecam kriminalisasi pekerja dan ancaman terhadap kebebasan pers
KSPSI-AGN Provinsi Sulawesi Utara menyatakan penolakan tegas terhadap segala bentuk kriminalisasi terhadap pekerja dan buruh, termasuk pekerja yang menjalankan profesi jurnalistik secara sah.

Menurut organisasi tersebut, jurnalis tidak hanya menjalankan fungsi profesional, tetapi juga merupakan bagian dari ekosistem pekerja yang berhak memperoleh perlindungan hukum dan perlakuan yang adil.

“KSPSI-AGN mengecam segala bentuk tindakan yang, apabila terbukti, bertujuan membungkam pekerja melalui proses hukum yang tidak proporsional. Dalam perkara ini, kami melihat adanya persoalan serius yang perlu diuji secara terbuka: apakah pemeriksaan benar-benar didasarkan pada unsur pidana yang  terpenuhi atau justru berisiko menghambat kerja jurnalistik. Kami meminta seluruh  proses dinilai berdasarkan fakta dan hukum, bukan tekanan atau kepentingan tertentu,” katanya.

Ia menambahkan bahwa apabila dalam  perkembangan pemeriksaan ditemukan  indikasi nyata adanya upaya membungkam atau mengkriminalisasi kerja jurnalistik  yang sah, KSPSI-AGN akan mempertimbangkan langkah advokasi dan penyampaian aspirasi sesuai  mekanisme hukum yang berlaku.

Siapkan aksi apabila tuntutan transparansi tidak direspons. Sebagai bentuk pengawalan, KSPSI-AGN Sulawesi Utara menyatakan akan terus memantau perkembangan penanganan  perkara, meminta penjelasan resmi dari  pihak terkait, dan menyampaikan aspirasi melalui jalur organisasi.

Apabila tuntutan transparansi, kepastian penanganan laporan, serta perlindungan terhadap kebebasan pers tidak memperoleh respons yang memadai, KSPSI-AGN menyatakan akan mempertimbangkan aksi demonstrasi secara damai dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Kami tidak menginginkan proses hukum dijadikan arena konflik. Yang kami tuntut  adalah kejelasan, transparansi, perlakuan  yang adil, serta penanganan setiap laporan masyarakat secara profesional. Jika jalur  komunikasi dan penyampaian aspirasi tidak menghasilkan respons yang memadai, kami siap mengonsolidasikan anggota untuk  menyampaikan aspirasi secara tertib dan  konstitusional,” ujarnya.

Perkembangan perkara akan dilaporkan  kepada Presiden KSPSI-AGN
KSPSI-AGN Provinsi Sulawesi Utara juga akan melaporkan perkembangan perkara ini kepada  Presiden KSPSI-AGN, Andi Gani Nena Wea, yang menjabat  sebagai Penasihat Kapolri.

Pelaporan tersebut dimaksudkan untuk meminta perhatian organisasi tingkat nasional terhadap perlindungan anggota, penegakan hak pekerja, dan perkembangan persoalan yang berkaitan dengan kebebasan pers di Sulawesi Utara.

KSPSI-AGN menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari koordinasi organisasi dan tidak dimaksudkan untuk memengaruhi independensi penyidik dalam menjalankan tugasnya.

Menutup keterangannya, Imanuel A. Dariwu, S.H. menyatakan bahwa pihaknya akan terus mendampingi jurnalis dalam menjalani proses hukum dan memastikan hak-haknya dihormati.

“Prinsip kami jelas, setiap laporan masyarakat harus ditangani, setiap dugaan harus diperiksa, dan setiap orang harus memperoleh perlindungan hukum yang adil. Kebebasan pers bukan kebebasan tanpa batas, tetapi penegakan hukum juga tidak boleh mengabaikan perlindungan terhadap kerja jurnalistik yang sah,” tutupnya.

Narasumber :
Imanuel Abriantho Dariwu, S.H.
Penasehat Hukum/Wakil Ketua KSPSI-AGN Provinsi Sulawesi Utara

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *