SULUTMEDIA.COMManado – Jelang akhir Mei 2026, karikatur politik terkait Pilkada Gubernur Sulawesi Utara 2029 yang menyerang Gubernur Yulius Selvanus beredar di media sosial. Gambar itu tidak hanya menyasar kontestasi politik, tetapi juga mengandung sentilan “Sentimen Primordial” terkait agama, suku, dan ras.
Menanggapi hal itu, Pengamat Politik dan Pemerintahan Sulut Taufik M Tumbelaka memberi kritik tegas.
“Saya sudah lihat gambar itu. Bagi saya itu tidak sesuai dengan Pembangunan Politik di Sulut yang bertujuan memperkuat kualitas demokrasi. Itu tidak sehat dan tidak dapat dibenarkan,” ujar Taufik.
Jebolan Fisipol UGM Yogyakarta ini menegaskan, sentimen primordial sangat tidak sesuai dengan penguatan demokrasi di Sulut maupun Indonesia. Perbedaan pilihan politik tidak boleh dibenarkan menjadi manuver serangan pribadi, apalagi menyentuh isu agama, suku, dan ras.
“Masalah Sentimen Primordial terkait agama, suku, ras dan lainnya sangat tidak sesuai dengan penguatan demokrasi. Perbedaan pendapat politik tidak serta merta memperbolehkan serangan ke pribadi seseorang,” tegasnya.
Menurut Taufik, ada tiga pihak yang dirugikan akibat karikatur tersebut: Gubernur Yulius Selvanus, PDI Perjuangan Sulut, dan masyarakat Sulut secara keseluruhan karena menurunkan kualitas demokrasi.
“Hal seperti di gambar itu tidak bisa divalidasi sebagai sah-sah saja dalam dinamika politik. Ke depan semua pihak tidak boleh mentolerir cara-cara yang menyerang pribadi termasuk Sentimen Primordial. Sulut perlu terus melakukan Pembangunan Politik agar kualitas demokrasi meningkat,” pungkas Taufik.
Donald Audy**








Komentar